Minggu, 28 November 2010

Berbagi dengan Orang Hindu

Hari ini aku menghadiri acara semianr 6 agama di Fakultas Hukum UI. Yang mendirikan acara itu Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UI. Aku seneng bisa hadir di acara itu. Seneng bukan karena seminarnya (haha, pas seminar aku malah ngantuk), tapi karena sempat berdiskusi sama teman baru yang beragama Hindu.

Cewek itu anak Fasilkom UI angkatan 2009. Aku merasa, kami punya pikiran yang sama & kompak ^ ^. Di sesi hiburan, ada cewek-cewek yang berpakaian seksi (tidak perlu dideskripsikan mereka pakai baju apa yaa) memasuki panggung. Secara spontan, kami bilang, "Buseeedah." Wew, kok bisa bareng ya ?
Ternyata, kami sama-sama tidak menyukai pemandangan itu. Justru dia yang lebih banyak berkomentar. Nah, itu pendapatnya tentang cewek berpakaian seksi. Aku ingin tahu pendapatnya tentang cewek muslim yang berpakaian tertutup. "Apa pendapatmu tentang cewek muslim yang pake baju tertutup?" Dia merespon dengan bijak,"Itu sih terserah mereka." Aku makin anggap dia keren ketika dia cerita bahwa dia mendukung temannya yang mulai memakai krudung. Bahkan, dia kecewa ketika ada cewek berkrudung tapi bajunya ketat.

Subhanallah, keren kan. Dia aja bukan muslim, tapi suka dengan kesopanan dalam berpakaian. Aku belum pernah menemukan orang seperti dia. Aku pikir, agama selain Islam tidak mengajarkan aturan kesopanan dalam berpakaian. Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, dia benar-benar memperhatikan.

Aku jelaskan ke dia bahwa sebenarnya tujuan kami berpakaian seperti ini adalah untuk menjaga diri. Contohnya, cewek-cewek yang dipanggung itu lebih gampang di-suit suit. Kalau kami, ga segampang itu. Aku bersyukur dengan penampilanku yang menutup aurat :) Aku pernah mengalami hal yang mirip. Ketika bimbel saat SMA, ada cewek yang berpakaian biasa-biasa saja (lupa persisnya, tapi tidak tertutup semuanya) lewat di depan para tukang, trus dia di-suit-suit. Giliranku lewat, aku pakai rok panjang, baju lengan panjang, krudung. Yesss. Aku tidak mendengar bunyi yang sama ! Sip sip...

Semoga cerita ini bisa jadi inspirasi bagi semuanya ^ ^

Kamis, 25 November 2010

Tidak Perlu Merasa Terintimidasi

            Merasa terintimidasi memang tidak menyenangkan bagi saya. Terlebih, saya mudah merasa terintimidasi. Ketika seseorang mengucapkan kata-kata bernada kasar untuk saya, saya tegang, tidak dapat berbicara untuk merespon, atau bahkan menangis. Saya tidak suka ada orang yang berkata kasar atau memarahi saya walaupun maksudnya untuk memberi nasihat. Cukup dengan nada tegas, saya sudah dapat menerima nasihat dari si pemberi nasihat.
            Hampir ada di setiap lingkungan terdekat saya di mana saya merasa terintimidasi. Di rumah, orang tua memarahi saya karena kecerobohan saya mengenai deadline pengiriman berkas. Bapak saya jarang memarahi saya biasanya. Mungkin karena jarangnya dimarahi bapak, efek amarah saat itu lebih besar. Beberapa saat kemudian saya menangis di kamar mandi dan tidak ada orang yang tahu saat itu.
            Saya cerita pada eyang saya mengenai kejadian tersebut. Lalu eyang memberitahu bapak. Bapak saya tidak meminta maaf, tetapi menasihati saya dengan cara yang lebih halus. Nasihat itu adalah ketika ada orang yang berkata sesuatu dengan nada yang tidak mengenakkan, yang didengar adalah apa yang dikatannya, bukan cara dia berkata. Kata beliau, saya akan menghadapi orang-orang yang berkata dengan cara yang lebih kasar.
            Saya jadi mengerti dan mencoba untuk mempraktikkan nasihat itu. Saya harus siap untuk menghadapi orang-orang yang akan menasihati saya dengan nada kasar atau terkesan marah. Saya mencoba tips itu saat sidang sosial project. Kakak-kakak senior yang menyidang kelompok saya tentu saja berbicara dengan tegas, bahkan tidak tersenyum. Berbagai pertanyaan dan nasihat mereka katakan. Pertanyaan para penyidang membuat jantung bertedak sangat kencang selama sidang karena saya tidak siap, namun nasihat mereka justru menguntungkan saaya dan teman-teman kelompok. Saya mencoba untuk tidak memperhatikan cara mereka bicara walaupun jantung masih berdetak keras. Saya tidak merasa terintimidasi, tetapi berpikir bahwa penyidang memberikan pengetahuan tambahan dengan berkata tegas.
            Saya sadar bahwa perkataan kasar atau amarah dapat berupa nasihat yang berharga. Jadi, saya tidak perlu merasa terintimidasi ketika menghadapi orang-orang pemberi nasihat dengan kasar. Saya perlu berlatih supaya terbiasa menghadapi mereka sekaligus berpikir positif terhadap mereka karena mereka tidak bermaksud menjelek-jelekkan, tetapi menasihati saya.

Diriku yang Sangat Submisif

Saya mempunyai ciri-ciri sifat submisif. Ketika saya ingin mengatakan sesuatu pada orang lain, saya tidak langsung mengatakannya. Ketika saya ingin berbagi informasi di sebuah forum besar, saya malu untuk berbagi. Jika saya tidak suka terhadap sikap orang lain, saya cenderung diam  saja.  Untuk menasihati orang lain,  saya sering tidak berani, malu, atau  takut dengan reaksi orang lain setelah saya memberi nasihat. Saya terlalu memikirkan perasaan orang lain. Bahkan jika saya ingin menjawab pertanyaan di suatu forum, rasanya sulit sekali untuk menjawab. Sikap-sikap seperti itu sudah ada pada diri saya sejak dulu dan sulit untuk menghilangkannya. Dibutuhkan keberanian yang cukup untuk berbicara dengan asertif.
Saya sadar sikap-sikap seperti itu tidak baik, sehingga saya ingin mengurangi sifat submisif saya, lebih baik lagi jika sifat tersebut hilang dari diri saya sendiri. Namun, saya tidak tahu secara pasti bagaimana cara menghilangkannya. Yang saya tahu hanyalah melatih diri sendiri untuk lebih percaya diri dalam berbicara dan lebih siap dengan reaksi orang lain setelah saya berbicara.
Ternyata, reaksi orang lain tidak seburuk yang saya bayangkan. Suatu saat saya pernah menyampaikan pendapat di kelas, saya tidak menyangka karena pendapat saya dihargai. Sebelum berpendapat, ada yang memotivasi saya untuk berbicara, sehingga saya akhirnya dapat berbicara di kelas untuk menyampaikan pendapat. Saya juga pernah menasihati teman saya. Setelah saya berniat menasihat, saya masih ragu apakah saya harus menasihati dia atau lebih baik diam saja daripada menyakiti hati teman. Setelah mendapat motivasi dari orang lain dan sudah merasa cukup berani untuk berbicara, saya akhirnya menasihati teman saya. Teman saya tidak marah setelah saya nasihati, tetapi justru menganggap nasihat itu sebagai peringatan. Kedua hal tersebut dapat saya lakukan karena saya mendapat motivasi dari orang lain. Motivasi dari orang lain bukan  paksaan, sehingga saya dapat berbicara dengan asertif.
Dari berbagai pengalaman yang menunjukkan bahwa saya juga dapat bersikap asertif, saya butuh dorongan dari dalam diri sendiri dan motivasi dari orang lain. Ketika saya berhasil bersikap asertif, saya merasa lega karena apa yang ingin saya katakan dapat tersampaikan. Ini sangat berguna bagi saya dan juga orang lain, seperti jika saya menyampaikan informasi di suatu forum besar dan menasihati orang lain. Saya berharap agar sifat asertif ada pada diri saya untuk seterusnya.



Senin, 22 November 2010

Blog Baru

Setelah beberapa bulan aku tidak memposting apa pun di blog lamaku: ka3ni.blogspot.com, aku putuskan untuk membuat blog baru karena blog lamaku terhapus !

Semoga blogku bisa bermanfaat :)